WHAT'S NEW?
Loading...
Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan
Roda zaman ini lebih cepat berubah dari cuaca. Ia akan melindas apa saja dan siapa saja yang tidak mampu menyesuikan dengan masanya. Banyak orang-orang yang tertinggal, dan hanya termangu, ia bercerita, "dulu di zaman saya, ada ini dan itu, saya dulu .....". Banyak perusahaan tumbang karena tidak mampu dan terlambat dengan cepatnya perubahan. Banyak pula organisasi besar yang tiba-tiba hilang dari peredaran.

Setiap masa ada pemimpinnya dan setiap pemimpin ada masanya, "Likulli marhalatin mutaqallabatuha, likulli marhalatin muqtadhayyatuha, wa likulli marhalatin rijaluha" (Setiap masa ada tuntutannya, setiap masa ada konsekuensinya, dan setiap masa ada pelaku sejarahnya).
Untuk dapat relevan disetiap masa, setiap kita harus menpunyai narasi yang kokoh dan nilai, bukan sekedar nilai, tetapi nilai plus. Karya yang senantiasa terupdate dengan zamannya. Para followers tanpa tanpa narasi dan nilai, ia akan terlunta-lunta dengan perubahan masa.

Tuntutan dan konsekwensi setiap masa harus dipenuhi dengan sempurna, gagal memenuhinya, berarti gagal menjadi pelaku sejarah di masanya. Mengerjakan agenda di masa kini tidak relevan dikerjakan dengan cara di masa lalu. Dan semua yang di masa lalu menjadi bahan penyempurnaan untuk masa kini dan yang akan datang.

Zaman boleh berubah, periode boleh berganti, namun pastikan setiap kita selalu relevan disetiap tempat dan masa, dan bukan golongan orang-orang yang tertinggal.

Allahu A’lam bishshawab.

Oleh: Imam Rohani, ST. MT
Hujan dan kemarau adalah hal yang terus berulang disetiap masa. Ketika kemarau ada sebagian yang menunggu datangnya hujan dan ketika hujan sebagian orang menunggunya reda. Tidak hujan dan tidak kemarau ada agenda menunggu.

Ketika kemarau, ia bermimpi jika seandainya hujan maka akan berbuat ini dan itu. Dan ketika hujan ia juga bermimpi seandainya hujan reda akan melakukan berbagai kebaikan. Tak sadar ia sedang tertidur dan tidak melakukan apa-apa.
Mungkin kita sering mendengar, ungkapan-ungkapan, saya akan menyumbang masjid sekian juta kalau nanti saya sudah kaya, saya akan menikah kalau sudah penghasilan sekian juta, saya akan a dan b jika sudah ......

Sadarkah bahwa itu semua adalah kita sedang menunda-nunda untuk berbuat kebaikan. Yang menjadi pertanyaan, apakah benar berbuat baik harus menunggu kaya, apakah benar memberi harus menunggu ada lebihan, apakah benar membahagiakan harus dengan harta.

Usah menunggu datangnya hujan atau menunggu hujannya reda. Teruslah berbuat baik, tak usah menunggu waktu, usah pedulikan kapan hujan dan kapan kemarau. Jika sedang hujan terobos, jika kemarau maka nikmatilah.

Tak usah ikutan lebay karena ini dan itu, teruslah berbuat kebaikan apapun kondisimu.

Allahu A’lam bishshawab

Oleh: Imam Rohani, ST. MT
Rasulullah saw. menganjurkan kita memiliki kecerdasan literasi melalui sabdanya, "...maka betapa banyak orang yang disampaikan kepadanya (hadis) lebih lebih paham dari orang yang mendengarnya langsung.." (Hadits shahih Tirmidzi dari Abdullah bin Masud).

Kecerdasan literasi merujuk kepada kemampuan untuk menganalisis, memahami dan merekonstruksi sebuah informasi atau peristiwa agar tidak menimbulkan distorsi dalam pemahaman. Akan sangat bahaya jika sebuah info kita terima begitu saja tanpa melakukan tabayyun (validasi) dan melihat info itu dalam skala utuh. Kalau mempertanyakan kerasulan Muhammad SAW bisa divonis kafir maka apakah ucapan orang seperti Umar bin Khattab yang memprotes keras isi perjanjian Hudaibiyyah 6 H, bahkan dengan bertanya kepada Rasulullah saw apakah anda seorang nabi, bisa langsung kita simpulkan bahwa Umar sudah kafir ? Disitu ada konteks dan situasi khusus sehingga Umar tidak bisa kita begitu saja katakan sudah keluar dari Islam. Dan yang bisa menjawab secara proporsional kalau kita memiliki kecerdasan literasi. Fatwa yang serampangan dan tergesa gesa pada umumnya lahir dari tiadanya kecerdasan literasi.

Tidak ada bedanya dengan peristiwa Shiffin (37 H) ketika sahabat Ammar bin Yasir terbunuh lalu banyak sahabat teringat kepada sabda Nabi saw bahwa kelak yang membunuh Ammar adalah gerombolan bughat atau pemberontak. Para pengikut Ali yakin bahwa bughat adalah pihak Muawiyah dan pengikutnya. Tapi Muawiyah menolak tuduhan itu. Ia malah mengatakan yang bughat itu adalah pihak yang mengkondisikan dan menggiring Ammar hingga terlibat di medan Perang Shiffin. Muawiyah bermaksud mengingatkan kepada para penuduhnya bahwa perangnya berhadapan dengan Ali tidak berdiri sendiri tapi ada kisah latar belakangnya yang panjang, utamanya karena ia adalah wali darah yang berhak menuntut darah Utsman yang terbunuh dua tahun lalu. Utsman dibunuh pemberontak dari Kufah, Basrah dan Fushtat Mesir. Dan para pemberontak itulah contoh paling benderang dalam halaman awal sejarah Islam yang berkisah tentang dahsyatnya fitnah kala kecerdasan literasi kosong dari pengambilan keputusan.

Baca juga : Kecerdasan Literasi Bagi Kader PKS

Secara pribadi saya prihatin jika membaca tulisan hanya dihiasi hamparan dan hamburan dalil tanpa mencoba melihat sisi konteks dan hubungan antara satu dalil dengan dalil yang. Apatah lagi jika tulisan itu terkesan menyingkirkan dalil-dalil lainnya yang mungkin tidak sesuai selera penulis. Itulah gunanya wahyu turun bertahap dan itulah hikmahnya Nabi dan Rasul tidak turun sekaligus pada satu masa menggempur manusia dengan wahyu dan setelah itu urusan langit selesai. Ada konteks, ada logika, ada kehati-hatian dan ada kejujuran dalam kesimpulan. Itulah kecerdasan literasi.

Tiadanya kecerdasan literasi akan memicu fitnah dan marabahaya dalam sikap beragama kita. Cukuplah sikap dan perjalanan sejarah Khawarij menjadi pelajaran buat kita bagaimana dahsyatnya fitnah dan akibat negatif yang muncul kala kecerdasan literasi itu hilang dari kesadaran umat saat menilai sebuah peristiwa.

Penulis : Ust. Surya Darman
https://www.facebook.com/surya.darma.731135/posts/953429254743762
Semua partai berserta calegnya saat berkampanye di musim pemilu legislatif pasti akan mempropagandakan tagline yang menjadi tema dari janji-janji atau rencana yang akan mereka lakukan saat terpilih nanti. PKS dengan tagline "Cinta Kerja Harmoni" menurut Anis Matta selaras dengan nilai-nilai bangsa Indonesia. Hambatan yang masih diakui adalah belum membaurnya kader dengan masyarakat dan dengan tagline atau jargon ini maka diharapkan akan melekatkan kader dengan warga. Berbekal tagline saja, para kader PKS langsung bekerja dengan turun langsung ke masyarakat sekitar mereka. Apalagi saat itu (2014) PKS sedang dalam terpaan banyak "badai" dan selalu mendapatkan "serangan" di semua media sehingga rata-rata pengamat politik meramalkan bahwa pasti PKS sudah tidak masuk ET.

Kenyataan ternyata berbicara lain karena suara PKS tetap bertahan dan bertambah dari pemilu sebelumnya, bahkan punya peranan dalam Koalisi Merah Putih yang merupakan koalisi partai yang mengusung Prabowo sebagai calon presiden RI. PKS telah membuktikan bahwa tagline adalah sesuatu yang harus dibuktikan dan bukan sekedar wacana.

Bagaimana dengan caleg ?

Para caleg di PKS pun punya tagline sendiri menyesuaikan kondisi daerah pemilihannya. Sebagai contoh kita ambil tagline dari caleg DPRD Provinsi Dapil Makassar 1, Hj. Sri Rahmi, S.A.P yang akrab disapa dengan Bunda Rahmi yaitu "Bunda Untuk DPRD Bersih".


Setelah terpilih sebagai salah satu aleg DPRD Provinsi, Bunda Rahmi membuktikan tagline tersebut. Beliau bekerja sesuai tugas pokok dan fungsinya dan terus berusaha mewujudkan DPRD yang Bersih. Salah satu langkah yang ditempuh adalah dengan publikasi kegiatan-kegiatan DPRD melalui akun media sosial di twitter dan facebook. Pembahasan anggaran SKPD yang saat ini berlangsung pun bisa kita liat melalui akun tersebut.




Tagline dari Aleg DPRD Kota Makassar, Mudzakkir Ali Djamil, ST yang dikenal dengan nama MUDA juga menarik yaitu "Selalu Dekat dan Peduli". Dan memang dalam kesehariannya, MUDA adalah sosok yang mudah bergaul dengan semua kalangan, ditambah penampilannya yang selalu rapi plus kacamatanya yang semakin meyakinkan bahwa orangnya punya banyak solusi-solusi kreatif untuk Kota Makassar.


MUDA membuktikan tagline tersebut, dengan adanya berbagai prestasi bersama fraksi PKS di DPRD Kota Makassar. Menariknya lagi adalah beliau memanfaatkan media sosial khususnya facebook untuk bisa menerima aspirasi dari masyarakat.


Tagline Baru PKS

Sekarang PKS mempunya tagline baru. Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al-Jufri meminta setiap kader PKS untuk serius menjalankan amanah "Berkhidmat untuk Rakyat". Yang disampaikan Salim saat memberikan arahan pada acara Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-4 PKS DKI Jakarta di Ruang Ballroom, Hotel Atlet Century, Jakarta.

"Pilihannya hanya ada dua: Berkhidmat untuk Rakyat atau Berkhianat untuk Rakyat? Tentu kita memilih ‘Berkhidmat untuk Rakyat’. Berkhidmat untuk Rakyat memiliki makna yang sangat dalam, yaitu memberikan solusi untuk setiap persoalan rakyat," tutur Salim di depan ratusan kader PKS DKI dari lima Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Semoga dengan tagline baru ini, PKS bisa menjadi partai papan atas pada Pemilu 2019 mendatang dengan raihan suara di atas 10 persen. Dan para Aleg yang terpilih sekarang tetap amanah menjalankan tugas sebagai wakil rakyat untuk mewujudkan cita-cita bangsa ini. Aamiiin.

Oleh : Imam Rohani, ST. MT

Kelebihan adalah sesuatu yang luar biasa yang melampaui hal yang biasanya, kepantasan adalah segala sesuatu yang sesuai dengan kaidah ilahiyah dan kaidah alamiah. Umumnya semua kelebihan ada tingkat kepantasan di dalam diri orang-orang yang telah mencapainya. Mereka memiliki tingkat kepantasan itu dalam kelas yang berbeda, sesuai dengan tingkat kemajuan dan kelebihannya. Semua orang ingin memiliki kelebihan, namun kelebihan hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja yang telah memenuhi syarat kepantasannya. kelebihan adalah milik minoritas di dalam masyarakat, sementara kepantasan adalah milik mayoritas orang-orang. Untuk mencapai dan mendapatkan kelebihan tersebut, setidaknya ada empat jenis kepantasan :

1. Spekulasi kepantasan

Tindakan yang bersifat untung-untungan, tidak di rencana tapi yakin dan mengharap hasilnya, dugaan yang tidak berdasarkan kenyataan. Kelebihan akan sulit diperoleh dengan cara spekulasi kepantasan, dengan melakukan sedikit tindakan mengharapkan hasil yang besar, dan berharap mendapatkan keajaiban, laksana  mimpi kejatuhan bintang.

2. Sekedarnya kepantasan

Sekedarnya kepantasan adalah tindakan yang dilakukan sekedarnya, atau kualitas dan tindakan yang dilakukan untuk mengharapkan dihormati dan dirayakan. Tindakan yang dilakukan atas dasar dorongan akan sanjungan dan pujian. Sekedarnya kepantasan akan sulit bertahan, konsisten dengan kelebihan, ia mudah kecewa jika tidak ada yang menyanjung atau terbentur dengan masalah.

3. Mayoritas kepantasan

Mayoritas kepantasan adalah suatu tindakan yang sudah biasa dilakukan manusia pada umumnya, seperti jika kita lapar maka kita makan, jika haus kita minum dan seterusnya. Nilai atau karakter yang sudah lazim di masyarakat, ia akan memiliki standar kepunyaan yang sama dengan kebanyakan orang. Sehingga mayoritas kepantasan akan sulit meraih kelebihan. Karena ia masih tidak mau bergeser dari zona nyaman. Don't expect different results if you're still doing the same thing. (Jangan mengharapkan hasil yang berbeda jika masih melakukan hal yang sama).

4. Totalitas kepantasan

Tidak pernah ada kerugian bagi orang yang totalitas dan bersungguh-sungguh dalam tindakannya, karena meskipun gagal dari usaha yang dilakukan pasti ada kebanggaan tersendiri, ia tidak membutuhkan sensibilitas umum ataupun prestise. Baginya tidak ada kata gagal sebenarnya, yang ada hanyalah terlalu cepat menyerah. Setiap apa yang diimpikan akan terwujud, hanya saja kapan terwujudnya adalah soal waktu, dan itu ditentukan oleh seberapa besar kita berusaha. Totalitas kepantasan akan menghasilkan kelebihan yang sempurna, sehingga Allah, Rasulnya dan orang-orang yang beriman memberi penghormatan besar kepadanya. “Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu.” (At-Taubah : 105).

Burungpun terbang pagi-pagi untuk mencari makan, karena kalau dia terbangnya kesiangan, makanannya sudah habis. Semua kelebihan memiliki standar kepantasannya, dan Allah akan memberikan kelebihan kepada kita setelah kita memenuhi syarat-syarat kepantasannya, sesuai dengan tingkatannya.

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya (memikulnya), dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. ”(An Nisaa : 58)

Wallahu A’lam bishshawab.


Penulis :
IMAM ROHANI, ST. MT

Email : imamrhnmt@gmail.com
Pendidikan: Alumni S2 Unhas
Jabatan : Pengurus DPW PKS Sulawesi Selatan

Reses anggota DPRD Kota Makassar yang berlangsung sepekan 16-22 November 2015 ini dimanfaatkan oleh Mudzakkir Ali Djamil, ST yang akrab disapa dengan Muda untuk bertemu dan menjalin silaturahim dengan konstituennya (19-11-2015). 


Bertempat di Rumah Makan Sambel Ijo jalan Landak Baru, Muda menjalin keakraban, berdiskusi dan memberikan penjelasan mengenai pendidikan dan kesehatan yang merupakan bidangnya saat ini di Komisi D DPRD Kota Makassar.


Muda memberikan informasi tentang prestasi-prestasi yang telah dicapai oleh Fraksi PKS yang antara lain berhasil menaikkan insentif imam masjid, guru mengaji dan pemandi jenazah. Juga tentang sikap PKS untuk mengawal pemerintahan dari Walikota Dani Pomanto untuk menciptakan pemerintahan yang bersih dan transparan. 

Hari-hari sebelumnya, Muda telah melakukan banyak kunjungan dan sidak di beberapa tempat di Kecamatan Rappocini, Makassar dan Ujung Pandang. Salah satu yang menarik dan diposting di akun facebooknya adalah peninjauan ke beberapa titik pengerukan drainase yang memang butuh perhatian serius.

PKS : Berkhidmat Untuk Rakyat