WHAT'S NEW?
Loading...
Tampilkan postingan dengan label taujih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label taujih. Tampilkan semua postingan

oleh: Anis Matta, Lc

“Aku bisa berdoa kepada Allah untuk menyembuhkan butamu dan mengembalikan penglihatanmu. Tapi jika kamu bisa bersabar dalam kebutaan itu, kamu akan masuk surga. Kamu pilih yang mana?”

Itu dialog Nabi Muhammad SAW dengan seorang wanita buta yang datang mengadukan kebutaannya kepada beliau, dan meminta didoakan agar Allah mengembalikan penglihatannya. Dialog yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Ibnu Abbas itu berujung dengan pilihan yang begitu mengharukan: "Saya akan bersabar, dan berdoalah agar Allah tidak mengembalikan penglihatanku."

Beliau juga bisa menyembuhkan seperti Nabi Isa, tapi beliau menawarkan pilihan lain: bersabar. Sebab kesabaran adalah karakter inti yang memungkinkan kita survive dan bertahan melalui seluruh rintangan kehidupan. Kesabaran adalah karakter orang kuat. Sebaliknya, tidak ada jaminan bahwa dengan bisa melihat, wanita itu akan bisa melakukan lebih banyak amal saleh yang bisa mengantarnya ke surga. Tapi di sini, kesabaran itu adalah jalan pintas ke surga. Selain itu, penglihatan adalah fasilitas yang kelak harus dipertanggungjawabkan di depan Allah, karena fasilitas berbanding lurus dengan beban dan pertanggungjawaban. Ada manusia, kata Ibnu Taimiyah, lebih bisa lulus dalam ujian kesulitan yang alatnya adalah sabar ketimbang ujian kebaikan yang alatnya adalah syukur.

Nabi Muhammad juga berperang seperti Nabi Musa. Bahkan Malaikat Jibril pun pernah meminta beliau menyetujui untuk menghancurkan Thaif. Tapi beliau menolaknya. Sembari mengucurkan darah dari kakinya beliau malah balik berdoa: "Saya berharap semoga Allah melahirkan dari tulang sulbi mereka anak-anak yang akan menyembah Allah."

Muhammad bisa menyembuhkan seperti Isa. Juga bisa membelah laut seperti Musa. Bahkan bulan pun bisa dibelahnya. Muhammad punya dua jenis kekuatan itu: soft power dan hard power. Muhammad mempunyai semua mukjizat yang pernah diberikan kepada seluruh Nabi dan Rasul sebelumnya. Tapi beliau selalu menghindari penggunaannya sebagai alat untuk meyakinkan orang kepada agama yang dibawanya. Beliau memilih kata. Beliau memilih narasi. Karena itu mukjizatnya adalah kata: Al-Qur'an. Karena itu sabdanya pun di atas semua kata yang mungkin diciptakan semua manusia.

Itu karena narasi bisa menembus tembok penglihatan manusia menuju pusat eksistensi dan jantung kehidupannya: akal dan hatinya. Jauh lebih dalam daripada apa yang mungkin dirasakan manusia yang kaget terbelalak seketika menyaksikan laut terbelah, atau saat menyaksikan orang buta melihat kembali.


Tiada arti sebuah keberhasilan proses tarbiyah rasmiyah (pendidikan formal) tanpa dibarengi kemampuan seorang muttarabby (anak didik) dalam mengaktualisasikan dirinya sebagai nukhbah (kader) yang dinamis, sensitif dan bijak (hay, hassas, hakim). Cermatilah kecermelangan tarbiyah dzatiyah (pendidikan diri) tokoh-tokoh sejarah berikut.

Keluarga Nabi Ibrahim as

Ummu Ismail tak berhasil mencari jawaban dari Nabi Ibrahim kenapa sang suami tega meninggalkan mereka di lembah tak bertanam, tanpa kerabat dan bekal kecuali sekantung makanan dan minuman untuk hari itu. Maka ia mencoba mencari pertanyaan lain yang mencairkan segala yang beku, membukakan yang buntu, dan memudahkan  segala yang mustahil: “Allahkah yang menyuruhmu meninggalkan kami disini? Tanya Ummu Ismail. “Ya,” jawab Ibrahim. “Bila demikian pastilah Ia tak akan menyia-nyiakan kami, sahut Ummu Ismail.

Pada kondisi paling kritis dan dilematis itu, ia berhasil mengambil keputusan terbaik. Padahal sangat manusiawi, bila ia meminta agar Allah melimpahkan bahan makanan. Tapi yang ia lakukan justru berdoa agar keturunannya menegakkan shalat agar sebagian umat manusia mencintai mereka, baru kemudian ia minta agar Allah memberikan mereka rizki buah-buahan (Qs. Ar Ra’d: 37). Ia memang seorang pemimpin visioner.

Atau betapa bijaknya Ismail alaihissalam ketika ayahnya mengungkapkan, “Aku melihat dalam mimpi, bahwa aku menyembelihmu.” Ismail menjawab, “Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan temukan daku termasuk orang-orang yang sabar.” (Qs. Ash Shaffat:102)

Berbeda sekali dengan jawaban Yam bin Nuh yang telah menyaksikan langit pecah menumpahkan air berderai-derai dan bumi membelah mengeluarkan banjir bandang, lalu menjadi panduan ombak yang menggunung. Ternyata, ia masih yakin dapat berlindung ke bukit dan enggan bergabung dengan bapaknya dalam bahtera penyelamat (QS Hud:42-44). Inilah tanda-tanda kegagalan tarbiyah dzatiyah dan dominasi pandangan khas materialisme, yang kurun ini kian merebak.

Nabi Yusuf As

Di tengah paksaan istri pembesar Mesir yang mengajaknya berbuat mesum, Yusuf as menjawab, “Aku berlindung kepada Allah”. Dan ketika istri pembesar Mesir memprovokasi suaminya untuk menjatuhkan hukuman atau memenjarakannya, Yusuf mengajukan pembelaan yang sangat tegas dan polos, “Dia yang merayu diriku”. Hal yang di belakang hari dijawabnya dengan kata-kata yang lebih dewasa dan elegan.

Ketika raja memintanya untuk datang ke istana karena kecermelangan mentakwil mimpi, Yusuf menyuruh sang utusan kembali untuk menanyakan kisah wanita-wanita yang mengiris-iris jari mereka sendiri saatYusuf melintas. Maka ia tak perlu lagi mengatakan, Dia (istri pembesar Mesir) yang merayuku. “Justru istri pembesar Mesir yang semula main penjara dan siksa, kini mengaku bahwa ia yang merayu dan Yusuf menjaga diri.

Para sahabat dan Tarbiyah Dzatiyah

Lembaran sejarah para sahabat juga memberikan bukti keberhasilan tarbiyah dzatiyah. Di saat anak-anak bangsa menjadi kolaborator asing dan membenamkan negeri mereka ke kancah kehinaan, Ka’ab bin Malik menjadi contoh paling orisinil bagi kesetiaan, kesabaran, instropeksi diri dan kerendahan hati. Ia tidak tergiur oleh surat rayuan raja Ghassan yang menawarkan suaka politik: “Kudengar bosmu memboikotmu, padahal tak pernah engkau di (perlakukan) hina. Berangkatlah kepadaku, nanti aku santuni (muliakan) engkau.” (HR. Bukhari, Muslim dll.) Dengan cepat ia bakar surat itu, inilah dia bala’ yang sebenarnya,” katanya.

Atau Abu Rabi’, pembantu  urusan harian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Melihat kesetiannya, Rasul menawarkan apa kiranya yang diinginkannya. “As’aluka murafataka fi jannah,” (aku meminta untuk tetap dapat menemanimu di dalam surga), pinta Abi Rabi’. “Nah, bantulah aku untuk dapat menolongmu, dengan banyak bersujud, jawab Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.. Ia menuntut sesuatu yang jauh di atas nilai-nilai bumi dan sang guru menyiratkan jalan sejati  menuju kebahagiaan sejati, suatu ungkapan yang bernuansa tarbiyah dzatiyah.

Kegagalan Tarbiyah Dzatiyah

Beberapa episode perjalanan Bani israil bersama Nabi Musa mengatakan kita betapa pentingnya tarbiyah dzatiyah. Mereka tahu kedatangan Nabi Musa untuk misi penyelamatan. Apapun yang  mereka alami, kemenangan adalah kepastian. Namun, mereka gagal ( QS. Al A’raf :128-129).

Tenggelamya Fir’aun di laut dan selamatnya Bani Israil dari Fir’aun, tak menyisakan setitikpun keraguan untuk memasuki bumi suci yang dijanjikan (Al Maidah :20). Namun peristiwa itu seperti terjadi tanpa kuasa Allah. Mereka lebih memandang tubuh besar bangsa Amalek (raksasa) yang menduduki Kota Suci daripada jaminan kemenangan dari Allah. Berita tenggalamya Fir’aun yang perkasa adalah kegemparan yang besar yang mampu membuat siapapun lari tunggang langgang menghadapi pengikut Nabi Musa. Namun mereka justru menyampaikan ungkapan dekil yang khas, agar Musa dan Allah berperang diasana, baru setelah itu mereka masuk.

 Karenanya, mereka dikutuk. Berputar-putar di padang Tih, 40 tahun tak dapat memasuki kota suci yang dijanjikan. Allah masih memberikan mereka perlindungan berupa awan yang menaungi mereka dari sengatan terik matahari dan makanan instan Manna dan Salwa. Namun, baru beberapa saat mereka sudah protes,  “Hai Musa, kami tak bakal sabar menerima satu jenis makanan. Karenanya berdoalah untuk kami kepada Tuhanmu, agar ia mengeluarkan untuk kami tumbuhan bumi”. (QS. Al Baqarah:61). Perhatikan, bahasa apa yang mereka gunakan di hadapan nabi?

Dimana Kita?

Kita adalah satu di antara dua profil berikut. Alkisah, dua pasang belia membangun rumah tangga. Lepas walimah, sang suami pun harus berangkat lagi membina kader-kader dakwah, kerja yang biasa dilakukannya sampai larut malam. Malam panjang tanpa suami pun menderanya, membungkusnya dalam selimut sunyi lalu melemparnya dalam nyala bara yang menghanguskan keindahan hari-hari madu mereka. Perang pun mulai berkecamuk, “Zauji au da’wati? (Istriku atau dakwahku?).

Dengan mantap sang da’i merangkum kata menang: “Adindaku, kita bertemu di jalan dakwah. Allah melimpahkan kebahagiaan kepada kita dengan membimbing langkah kita ke dakwah yang diberkahi-Nya. Haruskah kita meninggalkannya, sesudah kekuatan itu bersatu dan bertambah untuk lebih meningkatkan kontribusi kita bagi dakwah? Jangan kita langgar janji kita kepada-Nya, sehingga keturunan kita kelak akan tercerai-beraikan oleh khianat kita.”

Tahun-tahun dakwah silih berganti. Ketika bayang-bayang kejenuhan dan kepenatan melintas, istri tercintalah yang tak bosan-bosan mengobarkan semangat dakwah dan pantang menyerah. Sampai anak-anak mereka tak punya pikiran menyuruh tamu-tamu menelpon di lain waktu karena ayahnya sedang istirahat. Mereka berlomba membangunkannya. Ia jadi yakin, dakwahlah yang membangunkannya bukan anak-anak yang berkolaborasi dengan tamu dan penelpon yang tak tau etika itu.

Profil yang satu lagi menghadapi hal yang sama, “istriku atau da’wah?” Satu jurus saja ia jatuh. Ketika dievaluasi, ia menangis dan dan bertekad, hujan, guntur dan badai tak boleh lagi menghalanginya dari tugas dakwah. Dan saat ia  telah bersiap melaksanakan tekad dan ikrarnya, tiba-tiba terdengar suara sang mertua. “Mertuaku atau dakwahku?” Sekali lagi ia tersungkur.

Tahun-tahun terbilang, kedua profil ini bertemu, yang satu dengan produk dakwah yang penuh berkah yang lain dengan kemurungan, dunia yang membelenggu dan urusan keluarga yang tak kunjung selesai.

sumber : http://www.hasanalbanna.com/tarbiyah-dzatiyah/

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Teruslah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu"
(KH Rahmat Abdullah).

“Sekali lagi…Amanah terembankan pada pundak yang semakin lelah. Bukan sebuah keluhan, ketidakterimaan..keputusasaan! Terlebih surut ke belakang. Ini adalah awal pembuktian..Siapa diantara kita yang beriman. Wahai diri sambutlah seruanNya…Orang-orang besar lahir karena beban perjuangan…Bukan menghindar dari peperangan." (K.H. Rahmat Abdullah)

“….Seorang hebat akan memunculkan kehebatan yang lebih besar jika ia bertemu dengan orang hebat lainnya. Individu cerdas akan melahirkan kecerdasan yang luar buasa gemilang jika ia bekerja sama dengan individu cerdas lainnya. Tapi ternyata orang hebat yang satu tak mudah dipertemukan dengan orang hebat lainnya. Lalu potensi kehebatan ini seperti daun kering, gugur dari pohon lalu berserakan. Maka peran organisasi adalah mengumpulkan daun-daun yang berserak, menggabungkan kecerdasan terpendam dari individu-individu yang ada di dalamnya…". (Anis Matta)

“Jadilah kalian orang-orang yang: )I( Paling kokoh sikapnya. )I( Paling lapang dadanya. )I( Paling dalam pemikirannya. )I( Paling luas cara pandangnya. )I(Paling rajin amal-amalnya. )I( Paling solid penataan organisasinya. )I( Paling banyak manfaatnya". (K.H. Rahmat Abdullah)

“Merendahlah, engkaukan seperti bintang gemintang, Berkilau dipandang orangdi atas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi. Janganlah seperti asap yang mengangkat diri tinggi di langit padahal dirinya rendah hina". (K.H. Rahmat Abdullah)

“Mungkin suatu saat perjuanganmu jadi arus. Arus besar yang menumbangkan tirani. Tapi saat itu kamu sudah tidak ada. Waktu kamu melakukannya pertama kali, kamu hanya sendiri. Tapi itulah yang membuatmu abadi. Abadi dalam kenangan manusia. Abadi bersama bidadari di syurga. Kamu melakukan yang tidak dapat dilakukan orang lain. Kamu melakukan jihad". (Anis Matta).

"Lupakanlah kebaikan-kebaikan yang pernah kamu lakukan kepada orang lain, tapi jangan sekali-kali kamu melupakan kebaikan-kebaikan yang pernah orang lain lakukan terhadapmu. Lupakanlah keburukan-keburukan yang pernah orang lain lakukan terhadapmu, tapi jangan sekali-kali kamu melupakan keburukan-keburukan yang pernah kamu lakukan terhadap orang lain". (Ust. Rahmat Abdullah)

"Kita semua tercipta dari tanah, maka di sekitar kita pasti ada tangah yang gersang. Semoga kita diberi kekuatan untuk menjadi rembulan bagi malamnya, embun bagi subuhnya, dan awan teduh pada siangnya. Atau jika kitalah tanah yang gersang itu, sambutlah setiap sentuhan cinta, seperti karang pun ridha ditumbuhi lumut, lalu kokohnya remuk menjadi butiran hara yang menyuburkan bumi…". (Salim A. Fillah)

"Adakalanya para penyeru kebenaran harus menjadi kepompong, berkarya dalam diam, bertahan dalam kesempitan. Tetapi, bila tiba saatnya menjadi kupu-kupu, tak ada pilihan kecuali terbang, melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia". (Salim A. fillah)

"Apa yang dipahami orang lain tentang kita sebenarnya dibentuk oleh sikap, perilaku dan cara kita mengekspresikan diri. Apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar tentang kita itulah yang menjadi faktor pembentuk citra kita dibenak mereka". (Anis Matta)

"Para pewaris nabi (ulama  adalah kafilah panjang yang akan terus menerus mengisi ruang kehidupan manusia dan mempertahankan jejak kenabian dalam narasi zaman". (Anis Matta).

"Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai. Lagi-lagi memang seperti itu dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari". (Ust. Rahmat Abdullah).

"Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Bukannya tidak menyakitkan. Bahkan para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan. Tidak…Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari akhirnya menjadi adaptasi, dan rasa lelah itu sendiri akhirnya lelah untuk mencekik iman. Begitupula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka". (Rahmat Abdullah).

“Ketika orang tertidur kamu terbangun itulah susahnya. Ketika orang merampas kamu membagi itulah peliknya. Ketika orang menikmati kamu menciptakan itulah rumitnya. Ketika orang mengadu kamu bertanggungjawab itulah repotnya. Makanya tidak banyak orang bersamamu di sini mendirikan imperium kebenaran". (Anis Matta)

“Para Pahlawan harus berhasil membangun ‘bunker’ dalam jiwa mereka. Tempat kunci-kunci daya hidup mereka tersembunyi dengan aman. Itulah yang membuat mereka selalu tampak santai dalam kesibukan, tersenyum dalam kesedihan, tenang di bawah tekanan, bekerja dalam kesulitan, optimis di depan tantangan dan gembira dalam segala situasi". (Anis Matta)

* dari berbagai sumber

Oleh : Imam Rohani, ST. MT

Kelebihan adalah sesuatu yang luar biasa yang melampaui hal yang biasanya, kepantasan adalah segala sesuatu yang sesuai dengan kaidah ilahiyah dan kaidah alamiah. Umumnya semua kelebihan ada tingkat kepantasan di dalam diri orang-orang yang telah mencapainya. Mereka memiliki tingkat kepantasan itu dalam kelas yang berbeda, sesuai dengan tingkat kemajuan dan kelebihannya. Semua orang ingin memiliki kelebihan, namun kelebihan hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja yang telah memenuhi syarat kepantasannya. kelebihan adalah milik minoritas di dalam masyarakat, sementara kepantasan adalah milik mayoritas orang-orang. Untuk mencapai dan mendapatkan kelebihan tersebut, setidaknya ada empat jenis kepantasan :

1. Spekulasi kepantasan

Tindakan yang bersifat untung-untungan, tidak di rencana tapi yakin dan mengharap hasilnya, dugaan yang tidak berdasarkan kenyataan. Kelebihan akan sulit diperoleh dengan cara spekulasi kepantasan, dengan melakukan sedikit tindakan mengharapkan hasil yang besar, dan berharap mendapatkan keajaiban, laksana  mimpi kejatuhan bintang.

2. Sekedarnya kepantasan

Sekedarnya kepantasan adalah tindakan yang dilakukan sekedarnya, atau kualitas dan tindakan yang dilakukan untuk mengharapkan dihormati dan dirayakan. Tindakan yang dilakukan atas dasar dorongan akan sanjungan dan pujian. Sekedarnya kepantasan akan sulit bertahan, konsisten dengan kelebihan, ia mudah kecewa jika tidak ada yang menyanjung atau terbentur dengan masalah.

3. Mayoritas kepantasan

Mayoritas kepantasan adalah suatu tindakan yang sudah biasa dilakukan manusia pada umumnya, seperti jika kita lapar maka kita makan, jika haus kita minum dan seterusnya. Nilai atau karakter yang sudah lazim di masyarakat, ia akan memiliki standar kepunyaan yang sama dengan kebanyakan orang. Sehingga mayoritas kepantasan akan sulit meraih kelebihan. Karena ia masih tidak mau bergeser dari zona nyaman. Don't expect different results if you're still doing the same thing. (Jangan mengharapkan hasil yang berbeda jika masih melakukan hal yang sama).

4. Totalitas kepantasan

Tidak pernah ada kerugian bagi orang yang totalitas dan bersungguh-sungguh dalam tindakannya, karena meskipun gagal dari usaha yang dilakukan pasti ada kebanggaan tersendiri, ia tidak membutuhkan sensibilitas umum ataupun prestise. Baginya tidak ada kata gagal sebenarnya, yang ada hanyalah terlalu cepat menyerah. Setiap apa yang diimpikan akan terwujud, hanya saja kapan terwujudnya adalah soal waktu, dan itu ditentukan oleh seberapa besar kita berusaha. Totalitas kepantasan akan menghasilkan kelebihan yang sempurna, sehingga Allah, Rasulnya dan orang-orang yang beriman memberi penghormatan besar kepadanya. “Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu.” (At-Taubah : 105).

Burungpun terbang pagi-pagi untuk mencari makan, karena kalau dia terbangnya kesiangan, makanannya sudah habis. Semua kelebihan memiliki standar kepantasannya, dan Allah akan memberikan kelebihan kepada kita setelah kita memenuhi syarat-syarat kepantasannya, sesuai dengan tingkatannya.

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya (memikulnya), dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. ”(An Nisaa : 58)

Wallahu A’lam bishshawab.


Penulis :
IMAM ROHANI, ST. MT

Email : imamrhnmt@gmail.com
Pendidikan: Alumni S2 Unhas
Jabatan : Pengurus DPW PKS Sulawesi Selatan

“Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada shalat dan shaum?” 

Sahabat menjawab, “Tentu saja!” 

Rasulullah pun kemudian menjelaskan, 

“Engkau damaikan yang bertengkar,

menyambungkan persaudaraan yang terputus, 

mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, 

menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan

mengukuhkan ukhuwah di antara mereka, 

(semua itu) adalah amal saleh yang besar pahalanya. 

Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan

dibanyakkan rezekinya, 

hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan”

(H.R. Bukhari-Muslim)


sumber : http://www.pksbogor.org/2013/05/amal-yang-lebih-besar-pahalanya.html
 
 
 
الأصول العشرة في آداب المنافسة
10 PRINSIP ETIKA KOMPETISI
Oleh: KH. DR. Ahzami Samiun Jazuli dan KH. DR. Ahmad Qusyairi

Berkompetisi (Al Munafasah) merupakan naluri setiap insan. Ia bisa menjadi energi positif bagi seseorang dalam mencapai suatu tujuan, namun bisa juga menjadi energi negatif. Yang membedakan di antara keduanya adalah motivasi yang menggerakkan seseorang untuk berkompetisi.

1. Berkompetisi menjadi sesuatu yang mulia ketika dilakukan dalam hal kebaikan, termasuk dalam tarbiyah dan dakwah. Urgensi kompetisi terlihat dalam beberapa hal berikut:
Sesungguhnya berkompetisi dalam kebaikan adalah sifat para nabi dan malaikat. Allah SWT berfirman memuji beberapa orang nabi-Nya,
"Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu berkompetisi/bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas" (QS Al Anbiyaa' [21]: 90).
Sebagaimana Allah Ta'ala bersumpah dengan para malaikat-Nya dengan menyifati mereka dalam firman-Nya :

"Dan (Malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang" (QS An Naazi'aat [79]:

Ali RA menafsirkan ayat tersebut dengan mengatakan, "Yakni para malaikat yang mendahului syetan dengan (membawa) wahyu kepada para nabi 'alaihimussalam". Hal ini juga dikatakan oleh Masruq dan Mujahid. Versi lain riwayat dari Mujahid dan Abi Rauq, maksud ayat ini adalah para malaikat yang mendahului manusia dalam kebaikan dan amal shalih"[1].

2. Berkompetisi dalam kebaikan dan amal shalih merupakan Mathlab Syar'iy (tuntutan syar'i),

sebagaimana Allah SWT memerintahkan hal ini dalam banyak ayat, di antaranya firman Allah :
"Berkompetisilah/berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga" (QS Ali Imran [3]: 133 dan QS Al Hadiid [57]: 21).

Dan firman-Nya,

"Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berkompetisi" (QS Al Muthaffifin [83]: 26).

Dan firman-Nya,

"Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan" (QS Al Baqarah [2]: 148).

Ibnu Sa'di mengatakan, "Barangsiapa yang berkompetisi di dunia menuju akhirat, maka dialah yang dahulu menuju syurga di akhirat. Untuk itu, orang-orang yang mendahului (As Saabiqun) adalah makhluk yang paling tinggi derajatnya"[2].

3. Berkompetisi dalam kebaikan adalah jejak dan wasiat Rasulullah SAW yang diwasiatkan kepada para sahabatnya. Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya orang-orang fakir dari kaum Muhajirin pernah mendatangi Rasulullah SAW, lalu mengadu, "Orang-orang kaya pergi membawa derajat yang tinggi dan tempat yang bergelimang nikmat. Nabi bertanya, "Apa itu?" Mereka berkata; Mereka shalat sama seperti kami shalat, dan mereka berpuasa sama seperti kami berpuasa, hanya saja (bedanya) mereka memiliki kelebihan harta sehingga mereka bisa menunaikan ibadah haji, umrah, berjihad dan bersedekah (dengan hartanya sementara kami tidak bisa karena miskin).
Lalu beliau bersabda,"Apakah kalian ingin aku ajari sesuatu yang (jika kalian amalkan) kalian dapat mengungguli orang-orang yang mendahului kalian, dan mengalahkan orang-orang setelah generasi kalian. Dan tidak ada seorang pun yang lebih utama dari kalian, kecuali orang yang mengamalkan hal yang sama seperti yang kalian amalkan?" Mereka menjawab, "Ya, wahai Rasulullah". Beliau bersabda, "Kalian bertasbih, bertahmid dan bertakbir setiap selesai shalat (masing-masing) sebanyak 33 kali"[3].

4. Kompetisi dapat menstimulasi motivasi dan mengobarkan semangat jiwa-jiwa yang loyo dan malas. Sebab, seseorang dalam bekerja maupun berkarya akan berbeda kualitasnya jika ada kompetisi di dalamnya, dibanding jika tidak ada kompetisi. Maka, kompetisi itu bak baterai yang mengeces dan memberi energi baru bagi seseorang untuk bergerak meraih puncak prestasi. Karena itu, sebagian orang ada yang mendefinisikan At Tanaafus (kompetisi) dengan "Naz'ah Fithriyah (naluri fitrah) seseorang yang mengajak kepada pengerahan segenap kemampuan dan tenaga menuju keunggulan dan kemenangan"[4]. Dengan demikian, tidak salah jika dikatakan bahwa kompetisi itu wasilah min wasaaili'l fauz (salah satu sarana menuju kemenangan).

5. Kompetisi menguak potensi-potensi manusia yang terpendam dan membuka kekuatan tekad mereka, sekaligus juga menjelaskan titik lemah dan kekurangan mereka.

Anas bin Malik RA meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW pernah mengambil pedang dalam perang Uhud (tahun 3 H), lalu bersabda, "Siapa yang siap mengambil pedang ini dariku?" (Maksudnya; siap berkompetisi di medan perang). Maka, para sahabat membentangkan (mengangkat) tangan mereka, masing-masing mereka mengatakan, "Saya" (menunjukkan kesiapannya). Lalu beliau SAW bersabda lagi, "Lantas siapa yang mau mengambilnya dengan menunaikan haknya?" (Maksudnya: mau mengambil pedang itu siap menggunakannya melawan musuh-musuh Allah di medan jihad). Maka, orang-orang pun terdiam membisu. Tiba-tiba berkatalah Abu Dujanah RA, "Saya siap mengambil pedang itu dan menunaikan haknya". Segera, ia mengambil pedang tersebut dan memporakporandakan barisan kaum musyrikin"[5].

Hadits ini menunjukkan keberanian Abu Dujanah yang bernama asli; Simak bin Kharsyah RA, tadhhiyah (pengorbanan)nya dan kejujurannya dalam jihad. Dan sama sekali tidak menunjukkan ketakutan para sahabat lainnya RA. Sesunggunya mereka diam, tidak mengambil pedang tersebut karena khawatir mereka tidak mampu memenuhi syarat dan menunaikan haknya. Mereka mengangkat tangan mereka pertama kali, menunjukkan kesiapan mereka mengambil pedang tersebut dan menggunakannya untuk berperang tanpa syarat[6].

Semangat berkompetisi dan bersegera dalam kebaikan wajib diwujudkan sebelum datang rintangan yang menghalangi seorang hamba mentaati Rabb(Tuhan)nya. Sebab, umur manusia singkat, sementara ajal seseorang tidak ada yang tahu dan rintangan dan halangan banyak. Dalam hitungan menit bahkan detik, seorang yang sehat, bisa saja mendadak sakit. Usia muda dan fisik yang prima, dalam hitungan tahun bisa menjadi tua dan lemah. Hidup dan mati pun terasa tipis jaraknya, karena orang yang segar bugar pun bisa saja mati mendadak dengan takdir Allah SWT.

Untuk itu, Rasulullah SAW telah mewanti-wanti hal ini dengan sabdanya,

"Bersegeralah untuk mengerjakan amal-amal (shalih), sebelum nanti terjadi banyak fitnah seperti potongan malam yang kelam/gelap gulita. Sehingga seseorang di waktu pagi mukmin, dan sore hari berubah menjadi kafir. Atau hari mukmin, dan pagi hari berubah menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan sedikit/sesuatu yang remeh dari dunia"[7].

Sesungguhnya orang yang berkompetisi dan bersegera dalam kebaikan adalah lebih unggul dan lebih mulia daripada orang-orang yang lamban dan malas.

Allah SWT berfirman :

"Dan orang-orang yang beriman paling dahulu. Mereka Itulah yang didekatkan kepada Allah" (QS Al Waaqi'ah [56]: 10-11).
Dan firman-Nya,
"Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai 'uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk [Maksudnya: yang tidak berperang Karena uzur] satu derajat. kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar" (QS An Nisaa' [4]: 95).

Juga firman Allah SWT :

"Dan Mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik" (QS Al Hadiid [57]: 10).

10 Prinsip Etika Kompetisi
Agar kompetisi yang positif di atas tidak berubah menjadi energi negatif dan madzmum (tercela), maka perlu memperhatikan 10 prinsip etika berikut:
Pertama: Harus dipastikan bahwa kompetisi itu benar-benar dalam kebaikan

Semua dalil di atas menunjukkan bahwa berkompetisi itu menjadi mulia jika dilakukan dalam kebaikan. Dan salah satu kunci keberhasilan Rasulullah SAW dalam mentarbiyah (membina) para sahabatnya sehingga menjadi generasi terbaik dan manusia unggul, adalah beliau SAW menanamkan dalam diri mereka Ruh At Tanaafus (semangat berkompetisi) dalam kebaikan.

Contohnya adalah kompetisi yang ditunjukkan Umar bin Khaththab RA yang ingin mengalahkan Abu Bakar Ash Shiddiq RA dalam berjihad dengan harta (bersedekah). Yaitu, suatu hari Rasulullah SAW menyeru dan menyemangati para sahabar untuk bersedekah. Maka, terkumpullah harta yang cukup banyak di tangan Umar untuk disedekahkan merespon seruan Nabi SAW. Umar RA berkata, "Hari ini, aku akan dapat mengalahkan Abu Bakar .. Maka, aku datang (menemui Nabi) membawa separuh hartaku". Lalu Rasulullah SAW bertanya, "Apa yang engkau sisakan buat keluargamu?" Aku menjawab, "Sepadan dengan itu (maksudnya; separuhnya)". Dan (tiba-tiba) datanglah Abu Bakar dengan membawa semua harta yang dimilikinya. Beliau SAW lalu bertanya, "Wahai Abu Bakar, apa yang engkau sisakan buat keluargamu?" Ia menjawab, "Aku sisakan buat mereka Allah dan Rasul-Nya". Aku (Umar) berkomentar, "Aku tidak akan pernah mengalahkannya (Abu Bakar) dalam urusan apa pun selama-lamanya"[8].

Termasuk kompetisi dalam kebaikan, adalah berkompetisi dalam Kasbu'ts Tsawab (meraih pahala) dan Kasbu'l Qulub (menarik simpati hati) masyarakat guna mendukung dan mensupport dakwah (Ta'zizu'd Da'wah) dengan mengenalkan dan memasarkan program-program dakwah kepada masyarakat. Kejujuran dan kesungguhan ikhtiar kita dalam hal ini mendatangkan support dan Mahabbatullah (kecintaan Allah) yang kemudian pasti akan melahirkan simpati, dukungan dan cinta masyarakat, sebagaimana telah digariskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya,

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang" (QS Maryam [19]: 96).

Juga telah ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam dengan sabdanya,

"Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril (seraya berfirman); Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan (disebut nama orang itu), maka cintailah dia! Lalu Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril memanggil penduduk langit (seraya berkata); Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka hendaknya kalian semua mencintainya. Kemudian ia mendapatkan penerimaan (yang baik; simpati dan dukungan) di muka bumi"[9].

Dalam versi riwayat Imam Muslim, terdapat tambahan redaksi berikut :

"Dan apabila (Allah) membenci seorang hamba, Dia memanggil Jibril sambil berfirman, 'Sesungguhnya Aku beci si Fulan, maka bencilah ia!'. Lalu Jibril membencinya, kemudian memanggil kepada penduduk langit; Sesungguhnya Allah membenci si Fulan maka hendaknya kalian membencinya. Semua penduduk langit pun lantas membencinya, kemudian ia mendapatkan kebencian (bisa benbentuk ditolak dan dimusuhi) di muka bumi"[10].

Kedua: Hendaknya Al Munafasah (kompetisi) itu di jalan Allah, bukan untuk kepentingan diri sendiri (individu), harta rampasan perang, jabatan/kedudukan dan popularitas/penampilan

Baik dan buruknya suatu kompetisi sangat tergantung kepada niat dan motivasi. Maka, perlu selalu diwaspadai rusaknya niat dan motivasi dalam berkompetisi. Bukankah Rasulullah SAW telah bersabda,

"Sesungguhnya semua perbuatan itu tergantung kepada niat. Dan setiap orang tergantung kepada apa yang diniatkan (motivasi)nya"[11].

Untuk itu harus diwaspadai kompetisi dan persaingan dalam urusan dunia; jabatan, kedudukan, harta dan yang sejenisnya. Betapa bahayanya masalah ini, Imam Bukhari sampai perlu membuat satu bab khusus dalam kitab "Shahih"nya, yaitu "Bab Hal yang Perlu Diwaspadai dari Gemerlap Dunia dan Berkompetisi dalam Urusan ini", kemudian beliau meriwayatkan hadits Nabi SAW ketika memberi taujih (arahan) kepada para sahabatnya seraya bersabda,

"Maka, demi Allah bukanlah kefakiran yang aku takutkan atas kalian. Akan tetapi, yang aku takutkan atas kalian adalah ketika dibukakan/dibentangkan atas kalian dunia sebagaimana dibentagkan dunia itu atas orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian saling berkompetisi dalam memperebutkan dunia itu seperti mereka dulu (juga) berkompetisi dalam memperebutkannya, dan (akhirnya) dunia itu menghancurkan kalian seperti dunia itu (pula) yang pernah menghancurkan mereka"[12].

Dari Abdullah bin Amr bin Ash RA, dari Rasulullah SAW bersabda,

"Apabila ditundukkan bangsa Persia dan Romawi bagi kalian, maka kalian akan menjadi kaum seperti apa?" Abdurrahman bin Auf RA menjawab, "Kami akan mengatakan seperti apa yang diperintahkan Allah" (Imam An Nawawi menjelaskan; maksudnya: kami akan memujiNya, mensyukuriNya dan memohon kepadaNya tambahan karuniaNya)[13].

Rasulullah SAW bersabda, "Atau (jangan-jangan) tidak seperti itu. Kalian malah saling berkompetisi (dalam memperebutkan 'kue' kemenangan itu), kemudian (menjadikan) kalian saling hasud, kemudian saling membelakang (tidak menyapa), kemudian saling membenci, atau yang semisal itu"[14].

Kompetisi sejati di jalan Allah, telah diperagakan oleh para pemuda di zaman Nabi SAW. Dalam perang Uhud, Rasulullah SAW telah menolak keinginan 14 orang pemuda yang ingin ikut perang Uhud, karena usia mereka yang masih relatif muda; 14 tahun atau kurang dari itu. Di antara mereka: Abdullah bin Umar[15], Zaid bin Tsabit, Usamah bin Zaid, Nu'man bin Basyir, Zaid bin Arqam, Barra' bin 'Azib .. Mereka merindukan bisa ikut perang dan masing-masing bercita-cita meraih mati syahid di jalan Allah, sehingga masing-masing dari mereka siap berkompetisi dengan temannya agar bisa terpilih ikut perang. Seperti Rafi' bin Khadij RA, seorang pemuda dari kaum Anshar yang berkompetisi dengan Samurah bin Jundub RA sampai harus bergumul memperlihatkan kemampuannya guna meyakinkan Nabi SAW bahwa mereka layak dipilih dan diikutsersertakan dalam perang Uhud[16].

Bahkan, yang sangat mengagumkan, kompetisi seperti ini juga terjadi antara ayah dan anak. Ketika Rasulullah SAW memobilisir kaum muslimin untuk keluar mencegah kafilah kaum Quraisy , Khaitsamah bin Harits mengatakan kepada putranya; Sa'ad, "Sesungguhnya salah seorang dari kita harus tinggal di rumah untuk menjaga para wanita (keluarga)mu, maka biarkan aku yang keluar (ikut jihad bersama tentara kaum muslimin)". Namun Sa'ad menolak seraya berkata, "Wahai ayahku, seandainya hal ini tidak ada hubungan dengan surga, niscaya aku relakan ayahanda yang mendapatkannya. Sesungguhnya aku sangat mengharapkan mati syahid". Lalu, mereka sepakat untuk berkompetisi dengan cara diundi, ternyata yang keluar sebagai pemenang adalah nama anaknya, Sa'ad. Maka, berangkatlah Sa'ad bersama Rasulullah SAW dalam perang Badar (tahun 2 H) kemudian terbunuh; mati syahid[17].

Ketiga: Hendaknya kompetitor itu orang yang memiliki kapabilitas dan kredibiltas, serta memiliki kafa'ah (kemampuan dan kompetensi), baik kemampuan tarbiyah (kematangan tarbiyah), dakwah dan sosial 

Sebab, kalau amanat atau suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya dan tidak memiliki kemampuan, maka yang terjadi adalah suatu kerusakan dan kehancuran. Sebagaimana sabda Nabi SAW,

"Apabila suatu urusan itu diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah hari kiamat"[18].

Nabi SAW pernah mengingatkan sahabatnya tercinta; Abu Dzar RA untuk tidak menjabat apa pun karena tidak memiliki kompetensi dan kemampuan dalam hal ini.

Dari Abu Dzar RA bercerita, aku pernah bicara (dengan Nabi), "Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak tugasi aku dengan suatu tugas/jabatan?" Ia berkata, lalu beliau SAW menepuk pundakku dengan tangannya, kemudian bersabda, "Hai Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah, dan sungguh jabatan itu amanah, dan jabatan (kekuasaan) itu benar-benar pada hari Kiamat merupakan suatu kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya dengan benar dan menunaikan hak-haknya dengan baik"[19].
Dalam versi riwayat lain, Nabi SAW menasehati Abu Dzar RA dengan sabdanya,

"Hai Abu Dzar, sungguh aku lihat engkau orang yang lemah, dan aku mencintai untuk dirimu apa yang aku cintai untuk diriku. Engkau jangan memimpin dua orang dan jangan pula memegang harta anak yatim"[20] .

Keempat: Hendaknya kompetitor itu orang yang komitmen dengan sistem dan aturan organisasi serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Sebab, seorang mukmin tidak beribadah sendirian, tidak berjihad sendirian, tidak berdakwah sendirian dan tidak hidup sendirian. Gambaran kehidupan yang seperti ini jauh dari tabiat dan karakter agama Islam.

Karena karakter Islam adalah berjama'ah. Dan amal jama'i merupakan Sunnah Kauniyah (hukum alam), Thabi'ah Basyariyah (tabiat manusia) dan Faridhah Syar'iyah (kewajiban syariat).

Allah SWT berfirman,

"Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh" (QS Ash Shaf [61]: 4).

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah" (QS Al Maaidah [5]: 2).

Termasuk ta'awun di sini adalah At Ta'awun Baina'l Munafisin (tolong-menolong di antara para kompetitor).

Rasulullah SAW bersabda,

"Tangan Allah itu bersama jama'ah"[21].

Beliau SAW juga bersabda,

"Kalian harus selalu berjama'ah dan waspadalah kalian terhadap perpecahan. Sebab, syetan itu bersama orang yang sendirian, dan dia menjauh dari orang yang berdua. Barangsiapa yang menginginkan (berada di) tengah syurga, maka hendaknya ia komitmen dengan berjama'ah"[22].

Juga diperlukan komitmen dengan fairnes dan etika-etika sosial.

Selain itu, dalam berkompetisi seorang kompetitor harus komitmen dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku selama tidak ada unsur maksiat kepada Allah SWT, sebab tidak ada ketaatan kepada makhluk; siapa pun dia dalam bermaksiat kepada Al Khaliq; Allah SWT

Allah SWT berfirman,

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya" (QS An Nisaa' [4] 59).

Kelima: Dalam berkompetisi hendaknya seseorang tidak berlebihan dalam iklan (mengkampanyekan dirinya), janji-janji dan dana sehingga sampai memaksakan diri dengan berhutang yang melebihi kemampuannya, supaya tidak dianggap pamer dan cinta jabatan dan kedudukan

Sebab, israf (berlebih-lebihan) dalam hal dan urusan apa pun terlarang dalam Islam.

Allah SWT berfirman,

"Dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan" (QS Al A'raaf [7]: 31).

Termasuk dalam prinsip ini adalah mengumbar janji dan menggunakan kampanye hitam dalam berkompetisi.

Keenam: Menerima dengan lapang dada karunia Allah yang dianugerahkan kepada orang lain, baik karunia itu berupa kelebihan harta, kepercayaan masyarakat terhadapnya atau kecintaan mereka terhadapnya

Sebab, Allah mendistribusikan anugerahNya kepada hamba-Nya secara adil. Allah SWT berfirman,

"Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? kami Telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami Telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan" (QS Az Zukhruf [43]: 32).

Ketujuh: Berlaku adil terhadap semua peserta kompetisi, baik dari pihak para kompetitor sendiri seperti dengan tidak mencari-cari kesalahan orang lain, maupun dari pihak organisasi baik dari qiyadah (pimpinan) atau jundiyah (anggota) atau kebijakan organisasi dalam memberi dukungan kepada kompetitor tertentu

Sebab, berbuat adil itu karakter orang mukmin dan tangga menuju takwa. Allah SWT berfirman,

"Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS Al Maaidah [5]: 8)

Dan berlaku adil itu mendatangkan mahabbatullah (cinta dan kasih sayang Allah), berarti akan meraih dukungan, simpati dan cinta para hamba-Nya.

Allah SWT berfirman,

"Dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil" (QS Al Hujraat [49]: 9 dan lihat pula QS Al Mumtahanah [60]: 8).

Kedelapan: Kejelasan dalam sistem/aturan, kriteria dan anggaran baik dari sisi sumbernya maupun jumlahnya

Nizham (sistem) dibuat untuk ditaati dan dijalankan. Kejelasan suatu sistem dan manajemen merupakan kebutuhan vital untuk meraih keberhasilan dan kemenangan. Sebab, kebaikan dan kebenaran seperti apa pun, kalau tidak diatur dengan sistem yang jelas dan manajemen yang baik, akan kalah berkompetisi dengan kebatilan yang memiliki kejelasan sistem dan manajemen yang rapi.

Bukankah dahulu dikatakan oleh orang bijak,

"Kebenaran yang tidak dimenej dengan baik, akan mudah dikalahkan oleh kebatilan yang termenej dengan baik".

Dr. Yusuf Muhyiddin Abu Halalah mengatakan, "Sungguh, aku mendapati begitu banyak gerakan dakwah Islam dalam sejarah, yang belum meraih keberhasilan dan kesuksesan, bukan karena kurang ikhlasnya para aktivisnya, juga bukan karena lemahnya keyakinan dan kesungguhan mereka, melainkan karena mereka kurang bagus dalam planning dan manajemen serta capaian target dari setiap marhalah (etape) kerja dakwahnya, sehingga hasilnya adalah kegagalan"[23].

Termasuk dalam hal ini adalah kejelasan aturan baik yang terkait dengan kriteria kandidat maupun dukungan dana dan logistic. Terkait dengan kejelasan anggaran yang digunakan dalam berkompetisi; maka harus transparan dari sisi sumber maupun jumlahnya sehingga dapat dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat. Sebab, hal ini menjadi salah satu obyek audit yang urgen di hari Kiamat,

"Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam (manusia) dari sisi Rabnnnya di hari Kiamat hingga ditanya tentang 5 hal. Tentang umur, untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya untuk apa digunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia gunakan/belanjakan, dan apa yang diperbuat dengan ilmunya"[24].

Kesembilan: Terus terang dan membudayakan saling terus terang

Semua anggota dalam organisasi harus biasa terus terang dan membudayakan saling terus terang dalam semua urusannya, termsuk dalam masalah kompetisi. Sehingga tidak terbiasa bicara di belakang layar, sementara di hadapan yang bersangkutan atau kompetitor seakan tidak ada apa-apa dan tidak ada masalah.

Hal ini mengingatkan kita kepada budaya sharahah (terus terang) di kalangan generasi terbaik; para sahabat RA. Seperti yang terjadi antara Abu Bakar RA dan Umar bin Khaththab RA ketika keduanya berselisih dan berbeda pendapat dalam menunjuk pemimpin suatu ekpedisi. Abu Bakar RA mengajukan Qa'qa' bin Ma'bad bin Zurarah RA sebagai pemimpin, namun Umar RA tidak setuju dan menominasikan Aqra' bin Habis RA sebagai pemimpin. Perselisihan ini membuat suara kedua sahabat senior ini meninggi. Di saat itu, Abu Bakar RA mengatakan kepada Umar RA,

"Engkau ini tidak ingin kecuali selalu beda denganku". Umar RA menjawab, "Aku tidak ingin beda denganmu". Lalu keduanya berdebat sampai meninggi suara keduanya, kemudian turunlah awal QS Al Hujurat [49]: ayat 1 dan seterusnya[25].

Terus terang adalah bagian dari kejujuran. Dan kejujuran adalah bagian dari keimanan dan karakter utama orang yang bertakwa.

Allah SWT berfirman,

"Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar" (QS At Taubah [9]: 119).

Untuk itu, dalam berkompetisi perlu dibudayakan saling terus terang sesama kompetitor dalam beberapa hal, sehingga tidak ada su'uzhzhan (prasangka negatif) dan dusta di antara mereka.

Kesepuluh: Ridha dengan takdir Allah dan keputusan organisasi

Dalam setiap kompetisi, tentu selalu ada yang menang dan ada yang kalah. Kewajiban kita adalah berusaha dengan sungguh-sungguh dan mengerahkan semua potensi yang kita miliki, namun apa pun hasilnya, itu masuh dalam ranah takdir Allah Yang Maha Kuasa. Untuk itu, harus selalu ridha dengan keputusan Allah SWT. Selalu husnuzhzhan (berbaik sangka) kepada Allah, bahwa takdir-Nya terkait menang atau kalah dalam berkompetisi, itulah yang terbaik buat kita. Sebab, Allah SWT telah menegaskan dalam firman-Nya,

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" (QS Al Baqarah [2]: 216).

Rasulullah SAW bersabda,
"Urusan orang mukmin itu mengagumkan. Sesungguhnya semua urusannya itu baik, dan hal ini tidak dimiliki oleh siapapun kecuali oleh orang mukmin. Jika dia dianugerahi sesuatu yang menyenangkan lalu mensyukurinya, maka hal ini merupakan kebaikan baginya. Dan jika dia ditimpa/diuji dengan sesuatu yang tidak menyenangkan lalu sabar, maka hal ini (juga) merupakan kebaikan baginya"[26].

Kemudian sebagai bagian dari anggota organisasi, maka keputusan organisasi yang tidak melanggar syar'i dan berpedoman pada asas syura/musyawarah, adalah juga merupakan keputusan baik dan tepat, yang juga wajib ditaati dan dipatuhi.
Allah SWT berfirman,

"Dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu [Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya]. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya" (QS Ali 'Imran [3]: 159).

Semoga dengan memperhatikan etika dan rambu-rambu di atas, beragam kompetisi yang kita jalani, termasuk dalam PILEG (pemilu legislatif) nanti, dapat menghadirkan anugerah dan keberkahan Ilahi bagi kehidupan keluarga, jamaah dan negeri yang kita cintai ini.

Amin 3x Yaa Rabbal 'Aalamin ...

Bekasi, 22 R. Akhir 1434 H
05 Maret 2013 M


[1] Al Qurthubi, Al Jami' li Ahkam Al Qur'an, XIX/193-194.
[2] Ibnu Sa'di, Taysir Al Karim Ar Rahman, hal. 73.
[3] HR Bukhari dalam "Shahih"nya, Kitab Al Adzan, Bab Ad Dzikr ba'da Ash Shalat, no. 843 dan Muslim dalam "Shahih"nya, Kitab Al Masaajid, Bab Istihbaab Adz Dzikr ba'da Ash Shalat, no. 1375, dan lafazh hadits di atas adalah versi riwayat Muslim.
[4] Al Mu'jam Al Wajiz, hal. 627.
[5] HR Muslim dalam "Shahih"nya, Kitab Fadhail Ash Shahabah, Bab Fadhail Abi Dujanah Simak bin Kharsyah RA, no. 2470.
[6] Lihat: Dr Musthofa Al Khin dkk, Nuzhatu'l Muttaqin Syarh Riyadhu'sh Shaalihin, I/102.[7] HR Muslim dalam "Shahih"nya, Kitab Al Iman, Bab Al Hatsts 'Ala'l Mubaadarah bi'l A'mal .., no. 118.
[8] HR Tirmidzi dan Abu Dawud dalam "Sunan". At Tirmidzi mengatakan, bahwa hadits ini hasan shahih. Dihasankan oleh Imam Al Al Bani di kitab "Al Misykaah", hadits no. 6021.
[9] HR Bukhari dalam "Shahih"nya, Bab Dzikru'l Malaikah, no. 3209 dan 6040.
[10] HR Muslim dalam "Shahih"nya, Bab Idza Ahabballahu 'Abdan .., no. 157.
[11] HR Bukhari dalam "Shahih"nya, Kitab Bid'i'l Wahyi, no. 1, dan Muslim dalam "Shahih"nya, Kitab Al Imaarah, Bab Qauluhu SAW, "Innama'l A'maalu ..", no. 1907.
[12] HR Bukhari dalam "Shahih"nya, Kitab Ar Riqaaq, Bab Maa Yuhdzaru Min Zahrati'd Dun-ya wa't Tanaafusi fiiha, no. 6425, Muslim dalam "Shahih"nya , hadits no. 2961
[13] Shahih Muslim bi Syarhi'n Nawawi, XVIII/96.
[14] HR Muslim dalam "Shahih"nya, Kitab Az Zuhd wa'r Raqaaiq, no. 2962.
[15] Lihat: HR Bukhari, no. 4097. Lihat selengkapnya di kitab "As Sirah An Nabawiyah fi Dhaui'l Mashadir Al Ashliyah", Dr Mahdi Rizqullah, hal. 383.
[16] Lihat: "Usudu'l Ghaabah fi Ma'rifati'sh Shahaabah", Ibnu'l Atsir, II/354.
[17] Lihat: "Ath Thabaqaat Al Kubro", Ibnu Sa'ad, III/482, dinukil dari "'Uzhama' Haula'r Rasul", II/884.
[18] HR Bukhari dalam "Shahih"nya, Bab Man Suila 'Ilman wa Huwa Musytaghilun fi Haditsihi, no. 59.
[19] HR Muslim dalam "Shahih"nya, Bab Karaahatu'l Imaarah bi Ghairi Dharurah, no. 4823.
[20] Ibid, no. 4824.
[21] HR Tirmidzi dalam "Sunan"nya, Kitab Al Fitan, Bab Luzum Al Jama'ah, no. 2166. Menurut beliau, ini hadits hasan gharib, dan Al Albani telah menshahihkannya.
[22] Ibid, no. 2165. Menurut beliau, ini hadits hasan shahih gharib, dan Al Albani telah menshahihkannya.
[23] Al Ihkaam Baina Maraahili'l 'Amal fi Da'watin'n Nabi SAW, hal. 5.
[24] HR Tirmidzi dalam "Sunan"nya, Bab Fi'l Qiyamah, no. 2416, ia mengatakan, ini hadits gharib, dan telah dihasankan oleh Syekh Al Albani.
[25] HR Bukhari dalam "Shahih"nya, Bab Qola Ibnu Ishaq .., no. 4367.
[26] HR Muslim dalam "Shahih"nya, Bab Al Mukmin Amruhu Kulluhu Khair, no. 7692.


sumber : http://www.pksbogor.org/2013/04/etika-munafasah-by-kh-dr-ahzami-samiun.html
Pembahasan tentang pengertian al-Qur'an (ta’riful Qur’an) mencakup tiga bagian pembahasan yaitu: definisi al-Qur'an, nama-nama al-Qur'an, dan fungsi atau kedudukan al-Qur'an

Mukadimah

Pemahaman kaum muslimin ¾  secara umum ¾  terhadap al-Qur'an masih parsial (juz’i). Hal itu menyebabkan Al-Qur'an belum difungsikan secara menyeluruh dan utuh. Sebagian masyarakat memahami al-Qur'an sebagai obat (syifa) saja, maka mereka memfungsikannya hanya sebatas sebagai penyembuh. Sehingga, Al-Qur'an baru dekat dengan orang-orang yang sakit, sekarat atau sudah meninggal. Padahal al-Qur'an sebenarnya lebih dibutuhkan oleh orang-orang yang sehat. Sebagian yang lain hanya memahami al-Qur'an sebagai kitab bacaan yang pahalanya besar. Pemahaman yang terbatas ini mendorong masyarakat merasa puas setelah hanya membaca al-Qur'an.  Pemungsian al-Qur'an oleh masyarakat sangat dipengaruhi oleh pengetahuan (tashawur) dan persepsi mereka terhadap al-Qur'an itu sendiri. Hal inilah yang membuat pengenalan terhadap al-Qur'an menjadi sangat penting.

1.    Pengertian al-Qur'an (ta’riful Qur’an)

Para ulama tafsir al-Qur'an dalam berbagai kitab ‘ulumul qur’an, ditinjau dari segi bahasa (lughowi atau etimologis) bahwa kata al-Qur'an merupakan bentuk mashdar dari kata qoro’a yaqro’uu – qiroo’atan – wa qor’an – wa qur’aanan.  Kata qoro’a  berarti menghimpun dan menyatukan; al-Qur'an pada hakikatnya merupakan himpunan huruf-huruf dan kata-kata yang menjadi satu ayat, himpunan ayat-ayat menjadi surat, himpunan surat menjadi mushaf al-Qur'an. Di samping itu, mayoritas ulama mengatakan bahwa al-Qur'an dengan akar kata qoro’a, bermakna tilawah: membaca. Kedua makna ini bisa dipadukan menjadi satu, menjadi “al-Qur'an itu merupakan himpunan huruf-huruf dan kata-kata yang dapat dibaca”

Makna al-Qur'an secara ishtilaahi, al-Qur'an itu adalah “Firman Allah SWT yang menjadi mu’jizat abadi kepada Rasulullah yang tidak mungkin bisa ditandingi oleh manusia, diturunkan ke dalam hati Rasulullah SAW, diturunkan ke generasi berikutnya secara mutawatir, ketika dibaca bernilai ibadah dan berpahala besar” Dari definisi di atas terdapat lima bagian penting:

·         Al-Qur'an adalah firman Allah SWT (QS 53:4), wahyu yang datang dari Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung. Maka firman-Nya (al-Qur'an) pun menjadi mulia dan agung juga, yang harus diperlakukan dengan layak, pantas, dimuliakan dan dihormati.
·         Al-Qur'an adalah mu’jizat. Manusia tak akan sanggup membuat yang senilai dengan al-Qur'an, baik satu mushaf maupun hanya satu ayat.
·         Al-Qur'an itu diturunkan ke dalam hati Nabi SAW melalui malaikat Jibril AS (QS 26:192). Hikmahnya kepada kita adalah hendaknya al-Qur'an masuk ke dalam hati kita. Perubahan perilaku manusia sangat ditentukan oleh hatinya. Jika hati terisi dengan al-Qur'an, maka al-Qur'an akan mendorong kita untuk menerapkannya dan memasyarakatkannya. Hal tersebut terjadi pada diri Rasululullah SAW, ketika al-Qur'an diturunkan kepada beliau. Ketika A’isyah ditanya tentang akhlak Nabi SAW, beliau menjawab:  Kaana khuluquhul qur’an; akhlak Nabi adalah al-Qur'an.
·         Al-Qur'an disampaikan secara mutawatir. Al-Qur'an dihafalkan dan ditulis oleh banyak sahabat. Secara turun temurun al-Qur'an itu diajarkan kepada generasi berikutnya, dari orang banyak ke orang banyak. Dengan cara seperti itu, keaslian al-Qur'an terpelihara, sebagai wujud jaminan Allah terhadap keabadian al-Qur'an. (QS 15:9).
·         Membaca al-Qur'an bernilai ibadah, berpahala besar di sisi Allah SWT. Nabi bersabda: “Aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf, tetapi Alif satu huruf, laam satu huruf, miim satu huruf dan satu kebaikan nilainya 10 kali lipat” (al-Hadist).

Ali bin Abi Thalib berkata: Aku dengar Rasulullah SAW bersabda: “Nanti akan terjadi fitnah  (kekacauan, bencana)”  Bagaimana jalan keluar dari fitnah dan kekacauan itu Hai Rasulullah? Rasul menjawab: “Kitab Allah, di dalamnya terdapat berita tentang orang-orang sebelum kamu, dan berita umat sesudah kamu (yang akan datang), merupakan hukum diantaramu, demikian tegas, barang siapa yang meninggalkan al-Qur'an dengan sengaja Allah akan membinasakannya, dan barang siapa yang mencari petunjuk pada selainnya Allah akan menyesatkannya, Al-Qur'an adalah tali Allah yang sangat kuat, cahaya Allah yang sangat jelas, peringatan yang sangat bijak, jalan yang lurus, dengan al-Qur'an hawa nafsu tidak akan melenceng, dengannya lidah tidak akan bercampur dengan yang salah, pendapat manusia tidak akan bercabang, dan ulama tidak akan merasa puas dan kenyang dengan al-Qur'an, orang-orang bertaqwa tidak akan bosan dengannya, al-Qur'an tidak akan usang sekalipun banyak diulang, keajaibannya tidak akan habis, ketika jin mendengarnya mereke berkomentar ‘Sungguh kami mendengarkan al-Qur'an yang menakjubkan’, barang siapa yang mengetahui ilmunya dia akan sampai dengan cepat ke tempat tujuan, barang siapa berbicara dengan landasannya selalu benar, barang siapa berhukum dengannya hukumnya adil, barang siapa yang mengamalkan al-Qur'an dia akan mendapatkan pahala, barang siapa yang mengajak kepada al-Qur'an dia diberikan petunjuk ke jalan yang lurus” (HR Tirmidzi dari Ali r.a.)

2.    Nama-nama al-Qur'an

Di dalam al-Qur'an terdapat banyak nama-nama al-Qur'an. Dibalik nama itu kita akan memahami fungsi al-Qur'an.

·         Al-Qur'an
Nama yang paling populer adalah al-Qur'an itu sendiri, Allah menyebutkannya 58 kali. Penyebutan berulang-ulang itu menjadi peringatan bagi manusia agar dapat memfungsikan al-Qur'an sebagai bacaan agar mendapatkan petunjuk dalam hidup (QS 2: 185)

·         Al-Kitab
Artinya, wahyu yang tertulis. Menurut Syaikh Abdullah ad Diros, penamaan dengan al-Kitab menunjukkan bahwa al-Qur'an tertulis dalam mushaf dan hendaknya melekat di dalam hati. Rasulullah bersabda: “Orang yang di dalam hatinya tidak ada sedikitpun al-Qur'an, bagaikan rumah yang rusak” (al-Hadist)

·         Al-Huda
Artinya, petunjuk (QS 2:2). Sebagai petunjuk (al-Huda) merupakan fungsi utama dari diturunkannya al-Qur'an (QS 2:185). Kita tidak dapat menjadikan al-Qur'an sebagai petunjuk jika kita tidak membaca dan memahaminya, mengamalkannya dengan baik.

·         Rahmah
Berarti rahmat, terutama bagi orang-orang yang beriman (QS 17:82).

·         Nur
Berarti cahaya penerang. Konsekuensi dari pemahaman ini adalah dengan menjadikan al-Qur'an sebagai cahaya yang menerangi jalan hidup kita (QS 5:15-16).  Kita melihat tuntunan al-Qur'an, kemudian melangkah dengan tuntunan itu.

·         Ruh
Berarti ruh sebagai penggerak (QS 16:2). Ruh menggerakkan jasad manusia. Dengan nama ini Allah SWT ingin agar al-Qur'an dapat menggerakkan langkah dan kiprah manusia. Terutama perannya untuk memberikan peringatan kepada seluruh manusia bahwa tidak ada Ilah selain Allah.

·         Syifa’
Berarti obat (QS 10:57). Al-Qur'an merupakan obat penyakit hati dari kejahiliyahan, kemusyrikan, kekafiran dan kemunafikan.

·         Al-Haq
Berarti kebenaran (QS 2:147).

·         Bayan
Berarti penjelasan atau penerangan (QS 3:138; 2:185).

·         Mauizhoh
Berarti pelajaran dan nasehat (QS 3:138).

·         Dzikr
Berarti yang mengingatkan (QS 15:9).

·         Naba’
Berarti berita (QS 16:89). Di dalam al-Qur'an memuat berita-berita umat terdahulu dan umat  yang akan datang.


3.    Fungsi dan kedudukan al-Qur'an

Fungsi utama dari al-Qur'an adalah kitab petunjuk (kitabul hidayah). Di samping itu al-Qur'an juga memiliki fungsi-fungsi yang lain, antara lain:
·         Kitab berita (an-Naba’ wal akhbar)   (QS 78:1-2)
·         Kitab hukum dan aturan (al-hukmu wasy syari’ah)   (QS 5:49-50)
·         Kitab berjuang (Kitabul Jihad)   (QS 29:69)
·         Kitab pendidikan (Kitabut tarbiyyah)    (QS 3: 79)
·         Kitab ilmu pengetahuan  (Kitabul ‘Ilm)